Model Pembelajaran Generatif

Pembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL). Menurut Osborne dan Wittrock (Kholil, 2008), pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang.

Intisari dari belajar generatif adalah bahwa otak tidak menerima informasi dengan pasif, melainkan justru dengan aktif mengkonstruk suatu interpretasi dari informasi tersebut dan kemudian membuat kesimpulan. Seperti yang dikemukakan oleh Osborne dan Wittrock (Hulukati, 2005:50) bahwa otak bukanlah suatu blank slate yang dengan pasif belajar dan mencatat informasi yang datang.

Osborne dan Wittrock (Yulviana, 2008:10) menjelaskan proses pengolahan input indera dalam otak yaitu:

  1. Ide yang ada di pikiran siswa mempengaruhi dalam mengarahkan indera.
  2. Ide yang ada di pikiran siswa menentukkan masukan dari indera mana yang akan diperhatikan dan mana yang tidak.
  3. Masukan indera yang diperhatikan siswa belum mempunyai arti.
  4. Siswa membangun hubungan-hubungan antarmasukan indera yang diperhatikannya dengan yang ada di pikirannya.
  5. Siswa menggunakan hubungan tersebut dan pemasukan indera untuk membangun arti pada pemasukan itu.
  6. Kadang-kadang siswa menguji arti yang dibangun dengan keterangan lain yang disimpan dalam otak.
  7. Mungkin siswa menyimpan arti yang dibangun dalam ingatan.

Otak siswa begitu berperan dalam menyerap dan memaknai informasi, maka siswa sendiri adalah penanggung jawab utama dalam belajar.

Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur dan Katu (Kholil, 2008) diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru.
  2. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa.
  3. Penekanan pada prinsip Scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal, dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada siswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. Jadi, siswa sebaiknya langsung saja diberikan tugas kompleks, sulit, dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.
  4. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Top-down berarti siswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan autentik untuk dipecahkan. Dalam proses pemecahan masalah tersebut, siswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru atau teman sebaya yang lebih mampu.
  5. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka.
  6. Menganut visi siswa ideal, yaitu seorang siswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar.
  7. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi, serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri, maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar.

Pengetahuan dibangun oleh siswa sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Tidak semua pembelajaran dapat disampaikan semuanya oleh guru. Siswa harus mengkonstruksi sendiri pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ’mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan.

Menurut Osborne dan Wittrock (Sumarna, 2009:19) model pembelajaran generatif ini dirumuskan ke dalam lima tahapan, yaitu:

1. Orientasi

Merupakan tahap memotivasi siswa untuk mempelajari materi yang akan diajarkan, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk membangun kesan mengenai konsep yang sedang dipelajari, dengan menghubungkan materi/manfaat materi tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pengungkapan Ide

Pada tahap ini guru dapat mengetahui ide atau konsep awal yang dimiliki siswa mengenai materi yang akan dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide mereka mengenai konsep yang akan dipelajari. Pengungkapan ide tidak hanya disampaikan dari siswa ke guru, tetapi juga antarsiswa. Pengkomunikasian gagasan ini dapat terjadi baik antara siswa dalam suatu kelompok maupun antarkelompok.

3. Tantangan dan Restrukturisasi

Pada tahap ini guru memunculkan kognitif konflik sehingga siswa dapat membandingkan pendapatnya dengan pendapat temannya, serta bisa mengupayakan pengungkapan kebenaran/keunggulan pendapatnya. Pada tahap ini siswa menerima tantangan berupa permasalahan yang diberikan oleh guru ataupun yang diajukan oleh salah satu siswa, kemudian melalui diskusi kelompok para siswa berusaha menyelesaikan permasalahan tersebut. Selanjutnya siswa menyajikan pekerjaannya untuk dibandingkan dengan pekerjaan dari kelompok lain. Setelah proses tersebut diharapkan siswa bisa memperoleh koneksi baru yang lebih dalam mengenai konsep yang bersangkutan.

4. Penerapan

Pada tahap ini siswa menerapkan konsep awal yang mereka miliki ditambah dengan konsep baru yang telah mereka peroleh. Siswa diberi kesempatan untuk menguji ide alternatif yang mereka bangun untuk menyelesaikan persoalan yang bervariasi.

5. Melihat Kembali

Siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi kelemahan dari konsep yang dimilikinya, kemudian memilih cara/konsep yang paling efektif dalam menyelesaikan persoalan. Siswa juga diharapkan dapat mengingat kembali konsep yang sudah dipelajari secara keseluruhan.

 

Daftar Pustaka

Hulukati, E. (2005). Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMP melalui Model Pembelajaran Generatif. Disertasi. Program Pasca Sarjana UPI. Tidak diterbitkan.

Kholil, A. (2008). Pembelajaran Generatif (MPG). [Online]. Tersedia: http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/pembelajaran-generatif-mpg.htm

Sumarna, H. (2009). Pengaruh Model Pembelajaran Generatif terhadap Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Madrasah Aliyah. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI. Tidak diterbitkan.

Yulviana, R. (2008). Penerapan Model Pembelajaran Generatif untuk Meningkatkan Kompetensi Strategis Siswa SMA. Skripsi. Jurusan Pendidian Matematika FPMIPA UPI. Tidak diterbitkan.

About these ads

15 Comments (+add yours?)

  1. halimatus sakdiah
    Dec 21, 2010 @ 05:25:28

    kak buku yang berhubungan dengan pembelajaran generatif d dapatkan d mana kak?
    oh ya bsa gak pembelajaran ini dijadikan skripsi, kira- kira susah gak kak?
    makasih ya kak…

    Reply

    • agina
      Jan 01, 2011 @ 23:40:26

      alhamdh skrg ini saya jg skrg lg nyusun skripsi ttg model pembeljrn generatif.

      selain dr intrnet, saya dpt sumbrY dari skripsi & disertasi yg prnh ngbahas ttg mdl ini

      Reply

  2. halimatus sakdiah
    Dec 21, 2010 @ 05:29:31

    bagi info ttg pembelajarn generatif donk…

    Reply

  3. Nurhasanah
    Feb 24, 2011 @ 03:14:39

    mbk,,,blh minta referensi tentang pembelajaran generatif donk??
    dan bagi info tentang pembeljran generatif,, mslhny aq cuma punya 2 buku tntang pembelajaran generatif

    Reply

  4. jie
    Jun 15, 2011 @ 09:30:47

    assalamualaikum
    agina, bagi informasinya ya tentang pembelajaran generatif
    hub numb 08190555563

    Reply

  5. landi
    Jun 30, 2011 @ 04:08:32

    @nurhasanah: dpt buku 2 judulnya apa saja ? Tolong sms k no sya Landi 083 824 311 203. Thanx U b4….

    Reply

  6. landi
    Jul 01, 2011 @ 12:29:21

    @urhasanah : 2 bukunya apa? menta dong judul 2 buku itu..

    Reply

  7. farhan
    Aug 09, 2011 @ 02:18:37

    Kak saya butuh PENELITIAN DENGAN METODE GENERATIF LEARNING,sy bisa minta tolong posting kan ke email saya ctaufiq@ymail.com.trims

    Reply

  8. vita
    Sep 11, 2011 @ 02:45:17

    saya juga pengen tw pa jugul bukunya….
    mohon bantuannya….
    trimakasih…

    Reply

  9. finanovtania
    Sep 30, 2011 @ 03:24:52

    thanx ya dah postkan model pembelajaran generik…udah nambahin referensi skripsi aq…

    Reply

  10. magdalena panjaitan
    Jan 24, 2012 @ 14:35:41

    tolong referensi pembelajaran genereatif, tolong info judul buku tentang pembelajaran generativ ke email saya mbak.!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • 8,967 hits

http://twitter.com/a_gina

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: